Macau di Luar Kasino



Kota Macau bermandi cahaya pada malam hari. Tidak hanya di bagian Macau Peninsula, yang berdempetan dengan Provinsi Guangdong, Cina, tapi juga di kedua pulaunya: Taipa dan Coloane. Sumber cahaya itu adalah kasino-kasino yang seperti berlomba-lomba memamerkan keindahannya melalui hiasan ribuan lampu beraneka warna. 

Ada yang statis, ada pula yang menari-nari membentuk animasi yang unik. Lantaran besarnya kebutuhan listrik untuk penerangan, Companhia de Electricidade de Macau—PLN-nya Macau—harus mengimpor listrik dari Cina.

Yang paling mencolok adalah bangunan kasino dan Hotel Grand Lisboa di Macau Peninsula. Hiasan lampunya menyerupai bunga lotus, mengikuti lekuk gedung setinggi 261 meter itu. Ke sanalah Ester Lau, pemandu kami, meminta Jimmy mengarahkan minibus yang dikemudikannya. Tepat di persimpangan tiga, bus kami berhenti. “Sopir kita ini baik. Dia beri kita pemandangan paling bagus, tapi harus cepat turun karena kita curi-curi ya,” ujar Ester. 

Pariwisata merupakan sektor primadona dalam perekonomian Macau. Dan Indonesia termasuk 10 besar pemasok turis ke Macau. Tahun ini, menurut Ningsih A. Chandra, Public Relations and Communications Manager Macau Government of Tourist Office (MGTO) perwakilan Indonesia, hingga September lalu turis asal Indonesia yang datang ke Macau berjumlah 158.285 orang.

Sebanyak 34 kasino di sana merupakan daya tarik utama para pelancong. Namun, pariwisata Macau bukan sebatas meja-meja judi. Pemilik kasino juga menyadari hal itu. Itu sebabnya, selain mendirikan kasino dan hotel yang megah, mereka membangun mal-mal cantik dengan atraksi-atraksi yang unik.

Di Wynn Macau misalnya. Setiap hari, mulai pukul 10 malam sampai pukul 2 dinihari, berlangsung pertunjukan Tree of Prosperity and Dragon Fortune, yang digelar berselang-seling di Atrium Rotunda. Pohon Kemakmuran setinggi 11 meter itu tidak hanya mengumbar berwarna emas, tapi juga 68 cabang, 2.000 ranting, serta 98 ribu lembar daun yang betul-betul berlapis emas 24 karat. Pohon ini muncul berputar-putar dari balik belahan bola langit bergambar konstelasi bintang. Begitu pohon muncul, pengunjung yang berdiri di belakang pagar bulat mengelilingi panggung atraksi sambil melemparkan koin. 

Atraksi Naga Keberuntungan juga berlangsung di tempat yang sama. Sayang, saat saya sampai di tempat itu, pertunjukan sudah berlangsung separuh jalan. Yang tampak adalah patung naga berwarna emas yang sedang menari. Yang paling dominan bergerak dari patung setinggi meter 9,3 meter itu adalah kepalanya. Kadang berputar, sesekali mengendus dan mengeluarkan asap—dengan matanya yang bersinar. 

Pada pengujung pertunjukan, sebuah bunga lotus emas berdiameter 4 meter mekar. Penonton pun bertepuk tangan. Selanjutnya, patung itu kembali tenggelam ke dalam lengkungan rasi bintang. Langit-langit di atasnya—yang semula terbuka—pun kembali menutup dan memperlihatkan ukiran lambang 12 shio berwarna emas.

Di kompleks kasino yang lain, City of Dreams, atraksi yang disajikan lebih spektakuler. Namun, pengunjung harus merogoh kocek lebih dalam untuk menyaksikan hiburan ini. Ada dua pertunjukan yang telah dibuka dalam dua tahun ini: House of Dancing Water di Dancing Water Theater dan Dragon’s Treasure di The Bubble. 

House of Dancing Water diklaim sebagai pertunjukan air paling besar di dunia. Diciptakan dan diproduksi oleh Franco Dragone, master pertunjukan teater yang pernah bekerja sama dengan perusahaan hiburan asal Kanada, Cirque du Soleil, dan penyanyi Celine Dion. Ceritanya sebenarnya sederhana. Tentang seorang pria yang berjuang membebaskan seorang putri dari cengkeraman ibu tirinya. Tapi, sepanjang pertunjukan berdurasi 85 menit itu, penonton dihibur oleh berbagai macam akrobat.

Harga tiket pertunjukan ini lumayan mahal. Untuk tempat duduk posisi terbaik di bagian A, orang dewasa harus membayar HK$ 880 (sekitar Rp 1,1 juta), sedangkan anak-anak HK$ 620 (Rp 768 ribu). Adapun untuk kelas C, orang dewasa harus membayar HK$ 480 (sekitar Rp 595 ribu) dan anak-anak HK$ 340 (sekitar Rp 421 ribu). Tapi, kalau menginap di Hard Rock Hotel—yang merupakan bagian dari City of Dreams—kita mendapat dua tiket kelas C. 

Di luar aksi-aksi akrobatik 80 pemain yang berasal dari 25 negara itu, Dancing Water Theater merupakan mahakarya tersendiri. Panggung bundar dengan sudut pandang 270 derajat itu dilengkapi dengan teknologi canggih. Ada 239 air mancur otomatis yang bisa menyemprotkan air setinggi 18 meter. Yang lebih hebat lagi adalah 11 elevator seberat 10 ton untuk mengubah panggung dari kolam sedalam hampir 9 meter menjadi lantai padat dalam waktu kurang dari 1 menit.

Sambil menyaksikan pertunjukan itu, terlintas di benak saya bagaimana kalau pemain yang melompat dari ketinggian sekitar 20 meter itu salah perhitungan. Ia sudah terjun padahal panggung belum sepenuhnya berubah dari lantai padat menjadi kolam berisi air. Atau, lompatannya melenceng sehingga keluar dari lubang kolam yang hanya berdiameter sekitar 8 meter itu. 

Pertunjukan itu sendiri tanpa cela. Cuma sekali terlihat salah satu penari terjatuh ke air saat membuat konfigurasi ketika bergelantungan. Tapi tak ada pengaruhnya. Pertunjukan tetap berjalan. Bahkan banyak penonton mengira itu bagian dari atraksi.

Menurut Stephanie Au, Assistant Manager Public Relations Melco Crown Entertainment, pengelola City of Dreams, semua pemain dalam pertunjukan itu benar-benar profesional. Mereka dipilih lewat audisi dan dilatih lebih dari 2 tahun di Belgia sebelum pertunjukan itu dibuka.

Pertunjukan kedua di City of Dreams adalah Dragon''s Treasure masih bertema air tapi bukan air sesungguhnya melainkan animasi tiga dimensi. The Bubble adalah teater Imax berbentuk kubah. Kami menonton pertunjukan berdurasi 10 menit itu dengan mendongak ke langit-langit—persis seperti menonton film tentang tata surya di Planetarium di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Bedanya, di The Bubble tidak ada kursi, jadi penontonnya berdiri. Untuk menyaksikan film ini, pengunjung dewasa harus membeli tiket seharga 50 pataca (sekitar Rp 60 ribu), sedangkan anak-anak membayar separuhnya.

Malam di Macau tak hanya bisa dinikmati dari atas daratan. Kami diundang untuk menikmati Kota Makau dari atas air dan berpesiar dengan Harbor Cruise. Kapal tiga dek itu berangkat dari Inner Harbour yang bersejarah, lalu menelusuri tempat wisata terkenal seperti Kuil A-Ma, Macau Tower, Jembatan Sai Van, dan Pusat Ekumenis Kum Lam sambil menyantap makan malam.

Namun, pelayaran selama 1,5 jam itu kurang berkesan. Apalagi, bagi penumpang yang harus membayar tiket sebesar 380 pataca (sekitar Rp 450 ribu). Waktu kami menaiki kapal pesiar mini itu, hanya ada dua penumpang selain dari rombongan kami. Hidangan makan malamnya, yang berupa aneka makanan laut, kurang hangat tersaji. Namun, sebagian dari kami bisa terhibur dengan berkaraoke selama pelayaran. 

www.amwtour.com

Komentar